Kenapa Memutar Setir Sampai Mentok Bisa Merusak Komponen?
Ruang parkir sempit sering kali memaksa Anda memutar kemudi sekuat tenaga. Hal serupa kerap terjadi saat putar balik di jalan padat. Tanpa sadar, setir diputar penuh hingga membentur batas mekanis.
Bunyi benturannya terdengar keras. Posisi mentok ini sering ditahan beberapa detik selagi kaki menginjak rem dan mata mencari celah kosong di jalan.
Kebiasaan ini terlihat remeh. Banyak orang menganggapnya wajar agar mobil mendapat radius putar terkecil. Roda depan memang dirancang berbelok ke sudut tertentu.
Namun, menahan kemudi tepat di ujung batas geraknya memicu kerusakan yang memakan biaya besar. Komponen di dalam sistem kemudi bekerja terlampau berat di posisi tersebut.
Tekanan minyak, beban gerak, dan arus listrik langsung melonjak bersamaan dalam hitungan detik.
Apa yang Terjadi pada Power Steering Hidrolik Saat Setir Mentok
Pada sistem hidrolik, pompa menyalurkan oli kemudi tanpa henti mengikuti putaran mesin lewat tali kipas. Saat setir lurus, katup sirkulasi terbuka bebas. Minyak kemudi mengalir santai kembali menuju tabung penampung. Beban pompa pun berada di titik terendah.
Keadaan berbalik ketika kemudi diputar hingga ujung rak membentur pembatas. Katup hidrolik membuka jalur tekanan secara penuh untuk menyuplai daya dorong terbesar ke piston rak.
Masalahnya, batang kemudi sudah tidak bisa bergerak lagi. Minyak bertekanan tinggi ini akhirnya tertahan di lorong yang sempit.
Katup pembebas tekanan memang membuka agar saluran pipa tidak pecah, namun tekanan di dalam sirkuit tetap tertahan di angka paling tinggi. Pompa hidrolik pun dipaksa bekerja melawan tahanan yang luar biasa berat.
Tekanan yang terperangkap memicu lonjakan suhu oli dalam sekejap. Pelumas yang terlalu panas cepat kehilangan kekentalannya. Di saat bersamaan, sil penahan karet pada ujung rak dan sambungan pipa menerima tekanan berlebih.
Bila kebiasaan ini sering diulang, karet sil lekas getas, mengeras, lalu robek. Cairan kemudi mulai menetes keluar.
Volume oli berkurang tanpa disadari. Pompa hidrolik akhirnya berdengung keras dan perlahan rusak permanen.
Beban Motor Elektrik pada Sistem EPS Saat Sudut Maksimal
Mobil-mobil modern kini beralih ke Electric Power Steering atau EPS. Sistem ini menyingkirkan pompa oli, saluran pipa, dan tabung minyak.
Gantinya berupa modul elektronik dan motor listrik kecil yang menempel di kolom setir atau langsung pada batang rak kemudi.
Perangkat ini bekerja berdasarkan sinyal dari sensor torsi dan sensor sudut putar. Ketika setir diputar sampai titik batas dan terus ditahan, sensor mengira pengemudi masih membutuhkan bantuan tenaga putar. Modul kontrol otomatis memerintahkan motor listrik menyalurkan daya dorong paling besar.
Penarikan daya puncak menyedot arus listrik yang sangat tinggi dari aki mobil. Arus besar yang mengalir terus-menerus tanpa pergerakan roda menimbulkan panas berlebih pada lilitan kawat tembaga motor EPS.
Jika dibiarkan terlalu lama, modul kontrol langsung mengaktifkan mode proteksi darurat untuk memotong arus listrik agar motor tidak terbakar.
Setir tiba-tiba terasa sangat berat. Bantuan tenaga lenyap seketika. Siklus panas yang sering berulang memperpendek usia motor EPS dan modulnya. Biaya perbaikannya mahal karena kerap kali harus dibeli satu set bersama batangnya.
Mengapa Kebiasaan Ini Makin Berisiko di Bawah Suhu Lingkungan Palu
Suhu lingkungan tempat mobil beroperasi memegang pengaruh besar terhadap keawetan suku cadang.
Kota Palu terkenal panas dengan paparan sinar matahari terik di siang hari. Aspal jalanan menyerap panas cukup tinggi, sehingga suhu di kolong mesin dan ruang roda ikut melonjak.
Ruang mesin yang panas memperlambat proses pendinginan komponen kemudi. Karet penutup debu, sil getas, dan kabel sensor EPS di bagian bawah mobil terpanggang udara panas secara terus-menerus.
Kondisi ini bertambah berat di tengah kemacetan kawasan pertokoan atau jalur perumahan padat di Palu yang memaksa pengemudi bolak-balik bermanuver patah.
Panas dari luar berpadu dengan lonjakan panas internal saat setir ditahan mentok. Bahan karet dan modul elektronik menjadi cepat rusak. Pelumas gemuk di dalam sambungan sendi kemudi juga lebih gampang mengering.
Langkah sederhana berikut berguna untuk menjaga keawetan sistem kemudi Anda:
- Hindari menahan setir di posisi mentok lebih dari tiga detik saat bermanuver.
- Beri jarak sedikit dengan mengendurkan setir satu atau dua sentimeter dari batas ujungnya.
- Bagi manuver menjadi dua gerakan maju-mundur bila jalan terlalu sempit.
- Hindari memutar roda saat mobil berhenti diam di atas aspal yang kasar.
Cara Mengubah Manuver Setir Agar Komponen Tetap Awet
Mengubah kebiasaan lama butuh perhatian tersendiri saat memegang setir. Langkah paling mudah adalah membiasakan manuver dua langkah ketimbang memaksakan satu putaran patah dengan sudut ban mentok.
Biarkan ban menggelinding pelan sebelum Anda memutar roda kemudi. Roda yang bergerak membuat gaya gesek ban terhadap jalan berkurang banyak. Pompa hidrolik maupun motor EPS tidak perlu memeras tenaga berlebih.
Bila situasi jalan memaksa Anda membelokkan setir sampai habis, kendurkan sedikit genggaman tangan.
Memutar balik setir beberapa milimeter sudah cukup menutup katup bertekanan tinggi atau menurunkan pasokan arus listrik motor EPS. Sudut belok mobil tidak berkurang banyak, tetapi beban kerja komponen kemudi langsung turun drastis.
Dengarkan bunyi kendaraan Anda. Suara dengung panjang dari balik kap mesin, decitan tali kipas, atau getaran ganjil pada setir saat berbelok menandakan komponen mulai aus. Gejala awal ini perlu lekas ditangani sebelum kemudi macet di jalan.
Bila setir mobil Suzuki Anda mulai berat, terdengar bunyi mendengung saat membelok, atau terlihat tetesan cairan di kolong mesin, segera periksakan ke bengkel resmi PATRAKO MOTOR ABADI (Palu).
Teknisi terlatih siap memeriksa seluruh rangkaian kemudi dengan alat diagnostik standar pabrikan agar mobil Anda tetap aman dikendarai di jalanan Palu. Anda dapat memesan jadwal servis berkala melalui situs resmi https://suzukipatrako.co.id.